EKOMENTAR Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memberikan manfaat dalam pemenuhan kebutuhan gizi siswa, tetapi juga membuka ruang bagi sekolah untuk menghadirkan inovasi dalam pengelolaan lingkungan.
Hal itu dilakukan SMA Negeri 7 Manado. Sisa makanan, khususnya kulit buah dan sayuran dari program MBG, tidak langsung dibuang menjadi sampah. Limbah tersebut justru diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna, seperti eco-enzyme, sabun cair, sabun padat, hingga pupuk kompos.
Kepala SMAN 7 Manado, Dr. Willem Hanny Rawung, S.S., M.Hum., mengatakan inovasi tersebut berawal dari persoalan sederhana yang muncul setelah pelaksanaan program MBG, yakni meningkatnya sisa makanan yang terkumpul setiap hari.
«“Muncul masalah karena ada sisa-sisa MBG yang terkumpul. Kami harus mencari cara memanfaatkan sisa MBG ini menjadi sesuatu yang berharga,” ujar Willem.»
Menurutnya, persoalan tersebut kemudian dijadikan sebagai bagian dari proses pembelajaran bagi para siswa. Mereka tidak hanya diajak melihat limbah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga mencari solusi agar sisa makanan dapat memberikan manfaat.
Dari proses tersebut, pihak sekolah mulai mengembangkan pengolahan limbah organik menjadi eco-enzyme. Cairan hasil fermentasi limbah organik itu selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan, sekaligus menjadi media pembelajaran bagi siswa mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Tidak berhenti pada eco-enzyme, kreativitas siswa dan pihak sekolah juga dikembangkan untuk menghasilkan produk turunan berupa sabun cair, sabun padat serta kompos.
Langkah tersebut menjadi contoh bagaimana persoalan yang muncul dari pelaksanaan program MBG dapat diubah menjadi peluang pembelajaran yang nyata. Para siswa dilibatkan untuk mengidentifikasi masalah, mencari solusi, melakukan proses pengolahan hingga menghasilkan produk yang bermanfaat.
Konsep ini sekaligus memperkuat pembelajaran berbasis problem solving, karena siswa berhadapan langsung dengan persoalan lingkungan yang mereka temui sehari-hari di sekolah.
Pengelolaan sisa MBG di SMAN 7 Manado pun diharapkan tidak sekadar mengurangi volume sampah, tetapi juga menanamkan kesadaran kepada generasi muda bahwa sampah organik masih memiliki nilai apabila dikelola secara tepat.
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa dari sisa makanan pun dapat lahir sebuah pembelajaran. Dari masalah sampah, siswa belajar mencari solusi; dari limbah, mereka belajar menciptakan sesuatu yang bernilai.(Fonny Raranta)













