EKOMENTAR Aliansi Mentari Timur Bersatu (AMTB) mempertegas komitmennya dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta menangkal berkembangnya sikap intoleransi dan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) di tengah masyarakat.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Dialog Kebangsaan bertema “Menjalin Kesatuan dan Persatuan dalam Bingkai NKRI” yang berlangsung di Kota Manado, Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan berbagai elemen masyarakat, mulai dari jurnalis, aktivis, mahasiswa hingga organisasi kemasyarakatan untuk memperkuat komunikasi dan membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ketua Aliansi Mentari Timur Bersatu, Jhon Pade, S.Sos., dalam penyampaiannya menegaskan bahwa AMTB hadir sebagai wadah yang menyatukan berbagai elemen masyarakat dengan latar belakang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga persatuan, toleransi dan stabilitas sosial.

Menurutnya, perbedaan suku, agama maupun pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memecah belah masyarakat. Sebaliknya, keberagaman harus menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dialog kebangsaan tersebut juga menghadirkan Ketua Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Sulawesi Utara, Hendra Tololiu, S.E., CPLA, sebagai salah satu pembicara. Kehadiran unsur organisasi pers ini menjadi bagian dari penguatan peran jurnalis dalam menjaga ruang publik yang sehat, menyampaikan informasi secara bertanggung jawab serta menangkal penyebaran informasi yang berpotensi memicu konflik sosial.
Selain itu, Deddy Nalia, Ketua DPW LSM Gempita, turut hadir sebagai pembicara. Ia menjadi bagian dari unsur aktivis yang mendorong pentingnya keterlibatan masyarakat sipil dalam mengawal persatuan, memperjuangkan kepentingan masyarakat serta membangun solidaritas lintas organisasi.
Dalam dialog tersebut, AMTB juga menyoroti pentingnya perhatian pemerintah terhadap persoalan kesenjangan sosial dan kebutuhan masyarakat kecil. Persatuan bangsa, menurut pandangan yang disampaikan dalam kegiatan itu, harus diwujudkan melalui kebijakan dan pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat.
Persoalan penyaluran bantuan sosial berupa sembako juga menjadi salah satu perhatian. Adanya keluhan mengenai masyarakat yang dinilai berhak menerima bantuan tetapi belum mendapatkannya perlu ditindaklanjuti melalui klarifikasi kepada instansi terkait agar penyaluran bantuan berlangsung transparan dan tepat sasaran.
AMTB turut mendorong agar wawasan kebangsaan tidak hanya menjadi materi yang dipelajari di bangku pendidikan, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menghormati perbedaan, menolak provokasi, menjaga komunikasi serta tidak menyebarkan isu SARA merupakan bagian dari tanggung jawab seluruh warga negara.
Melalui Dialog Kebangsaan ini, AMTB berharap jurnalis, aktivis, mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat dapat membangun sinergi yang berkelanjutan. Organisasi ini juga diharapkan menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat solidaritas serta mendorong terciptanya kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis.
Pesan utama yang ditegaskan dalam kegiatan tersebut adalah persatuan tidak boleh hanya menjadi slogan. Perbedaan merupakan kenyataan dalam kehidupan bangsa Indonesia, tetapi menjaga toleransi, persaudaraan dan keutuhan NKRI merupakan tanggung jawab bersama.(FONNY RARANTA)












