EKOMENTAR Pemerhati Sosial Nusa Utara Yusak Walo Langit Siau masih diselimuti duka ketika Gubernur Sulawesi Utara menjejakkan kaki di tanah yang terluka itu. Ia tidak datang hanya sebagai seorang pemimpin, tetapi sebagai seorang manusia yang hatinya terguncang melihat penderitaan rakyatnya. Di hadapannya, rumah-rumah luluh, jalan-jalan terputus, dan wajah-wajah lelah yang menyimpan kesedihan mendalam.

Saat menyusuri lokasi bencana, langkah Gubernur terhenti. Matanya berkaca-kaca. Air mata yang selama ini tertahan akhirnya jatuh juga, bukan air mata kekuasaan, melainkan air mata keprihatinan seorang ayah yang melihat anak-anaknya terluka. Di tengah puing-puing dan lumpur yang masih basah, ia memilih duduk menyendiri, menjauh sejenak dari keramaian.
Dalam keheningan itu, ia menundukkan kepala, berdoa kepada Tuhan yang ia imani. Ia memohon kekuatan bagi rakyat Siau, memohon penghiburan bagi mereka yang kehilangan, dan memohon agar perjalanan hidup masyarakat di pulau kecil ini senantiasa disertai dan dilindungi. Doa itu bukan sekadar ritual, tetapi jeritan batin seorang pemimpin yang menyadari betapa rapuhnya kehidupan manusia di hadapan alam.
Bagi Gubernur Sulawesi Utara, luka Siau bukanlah luka yang jauh di peta. Luka Siau adalah luka Gubernur. Duka rakyat Siau adalah duka seorang pemimpin yang terpanggil untuk hadir, merasakan, dan bertindak. Dari tanah yang basah oleh air mata dan doa itu, ia berjanji dalam hati: Siau tidak sendiri. Pemerintah akan berdiri bersama rakyatnya, memulihkan yang hancur, dan merajut kembali harapan yang sempat runtuh.
Di Siau, hari itu, kepemimpinan tidak diukur oleh kata-kata, melainkan oleh air mata, doa, dan keberanian untuk merasakan duka rakyat sebagai duka sendiri.(FORA)













